Laporan Kinerja (LAKIN) Pusat Studi Literasi (PSL)

LAPORAN KINERJA
PUSAT STUDI LITERASI (PSL)
TAHUN 2020

Disusun Oleh

Prof. Dr. Kisyani, M.Hum
Dr. Made Pramono

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
2020

HALAMAN PENGESAHAN

  1. Judul Kegiatan : Laporan Kinerja Pusat Studi Literasi 2020
  2. Ketua
    a. Nama Lengkap : Prof. Dr. Kisyani, M.Hum.
    b. b. NIP/NIK : 196210251986012001
    c. NIDN : 0025106205
    d. Jabatan Fungsional : Guru Besar
    e. Pangkat/Golongan : IV-e
    f. Jabatan Struktural : Kepala Pusat Studi Literasi, LPPM, Unesa
    g. Alamat Institusi : LPPM Universitas Negeri Surabaya
    Gedung Rektorat Lantai 6, Kampus Lidah, Surabaya
    h. Telpon/Faks/e-mail: 031-8296260
    i. Nomor Handphone : 08123167348
  3. Sekretaris : Dr. Made Pramono
  4. Waktu Kegiatan : Sebelas bulan (Januari—November 2020)

Surabaya, 25 November 2020
Mengetahui, Ketua,
Kepala LPPM Unesa,

Prof. Dr. Darni, M.Hum. Prof. Dr. Kisyani, M.Hum. NIP. NIP 196210251986012001

KATA PENGANTAR

Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan Semesta Alam, yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga pelaksanaan kegiatan Pusat Studi Literasi (PLU). LPPM, Unesa tahun 2020 dapat terselenggara dengan lancar.
Laporan ini merupakan laporan kinerja kegiatan PLU selama sebelas bulan pada tahun 2020 (Januari–Desember 2020).
Kami menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung kegiatan PLU, khususnya ketua LPPM Unesa.
Pelaksanaan program-program di PLU Unesa masih belum sempurna sehingga saran dan masukan yang bersifat membangun sangat diharapkan. Semoga hasil kegiatan ini bermanfaat bagi Unesa, masyarakat dan bangsa Indonesia.

                                                                           Surabaya, 25 November 2020
                                                                            Kepala Pusat Studi Literasi,

BAB I PENDAHULUAN

A. Gambaran Umum
Salah satu tujuan didirikannya Pusat Studi Literasi Unesa (disingkat PLU) adalah untuk meningkatkan literasi masyarakat. Beberapa studi menunjukkan kemampuan membaca siswa Indonesia hingga orang dewasa berada pada level rendah. Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS, 2011) menempatkan Indonesia pada posisi ke-42 dari 45 negara, Programme for International Student Assessment (PISA) bagi siswa usia 15 tahun (kelas IX/X) menempatkan Indonesia pada posisi ke-57 dari 65 negara (2009), posisi ke-64 dari 65 negara (2012), dan posisi ke-64 dari 70 negara (2015).
Hasil Indonesia National Assessment Programme (INAP) atau Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) buatan Indonesis yang mengevaluasi kemampuan peserta didik dalam hal membaca, matematika, dan sains menunjukkan bahwa kemampuan yang berkategori kurang adalah 77,13% untuk matematika; 46,83% untuk membaca, dan 73,61% untuk sains. Yang berkategori cukup adalah 20,58% untuk matematika; 47,11% untuk membaca; 25,38% untuk sains. Yang berkategori baik adalah 2,29% untuk matematika; 6,06% untuk membaca, dan 1,01% untuk sains. Hal ini menunjukkan bahwa perlu ada langkah-langkah yang masif untuk meningkatkan kemampuan berliterasi dan numerasi untuk peserta didik di Indonesia.
Selain itu, hasil tes PIAAC atau Programme for the International Assessment of Adult Competencies tahun 2016 untuk tingkat kecakapan orang dewasa juga menunjukkan hasil yang memprihatinkan. Indonesia berada di peringkat paling bawah pada hampir semua jenis kompetensi yang diperlukan orang dewasa untuk bekerja dan berkarya sebagai anggota masyarakat.
Sejalan dengan hal tersebut, Unesa telah mencanangkan Pusat Literasi Unesa (PLU) sejak 2015. Hal tersebut dituangkan dalam Keputusan Rektor Universitas Negeri Surabaya No 585/UN38/HK/KS/2015 tentang Pembentukan dan Pengangkatan Pengurus Pusat Literasi Univesitas Negeri Surabaya (PLU), 17 November 2015. Kegiatan yang dilakukan antara lain: bedah buku, seminar nasional literasi, seminar nasional literasi lintas disiplin, sarasehan literasi, sumbang saran terhadap keberadaan KKNI literasi dan bekerja sama dengan Pusat KKN

terkait dengan pelaksanaanya (mulai tahun 2017), sosialisasi literasi terkait dengan Gerakan Literasi Sekolah atau GLS, Kemendikbud (mulai 2016). Dua diantara anggota satgas GLS berasal dari PLU. Selama hampir dua tahun kegiatan PLU bernaung di bawah Wakil Rektor I Unesa.
Dalam perjalanan waktu, beberapa orang mulai menyosialisasikan kajian literasi dalam penelitian sehingga beberapa penelitian dosen dan tugas akhir mahasiswa pun mengkaji literasi dari beberapa perspektif keilmuan. Akhirnya, berdasarkan Keputusan Rektor Unesa No 1058/UN38/HK/KP/2017, 15 Agustus 2017 dilakukan pengangkatan Ketua dan Sekretaris Pusat Studi Universitari Negeri Surabaya. Pada SK tersebut tercantum bahwa Pusat Studi Literasi berada di LP3M. Akan tetapi, dengan berbagai pertimbangan matang, Pusat Studi Literasi akhirnya berada di LPPM Unesa. Keputusan Rektor Unesa tersebut tentang Pengangkatan Ketua dan Sekretaris Pusat Studi Universitas Negeri Surabaya (Ketua PLU: Prof. Dr. Kisyani, sekretaris PLU: Dr. Sifak Indana).
Secara resmi, ketua dan sekretaris Pusat Studi Literasi baru memulai tugas pada minggu kedua November 2017 bersamaan dengan pindahnya kantor LPPM Unesa dari Kampus Ketintang ke Kampus Lidah. Mulai Februari 2020, susunan pengurus berubah dengan terbitnya Keputusan Rektor Unesa 369/U N 38 IHKIKP I 2019 tentang Pemberhentian dan pengangkatan Kepala dan Sekretaris Pusat, kepala dan sekretaris Gugus Penjamin Mutu LPPM Unesa (Kepala PLU: Prof. Dr. Kisyani, Sekretaris PLU: Dr. Made Pramono).
Dalam naungan LPPM, Pusat Studi Literasi Unesa (PLU) mempunyai visi dan misi sebagai berikut.

Visi: Membangun budaya literasi yang berkeadilan, berkualitas, dan produktif tahun 2025.
Misi
(1) Meningkatkan akses dan mutu civitas akademika dan masyarakat (termasuk yang berkebutuhan khusus) melalui kegiatan berliterasi;
(2) Meningkatkan kepuasan kerja dan produktivitas layanan literasi yang berdampak pada kepuasan pelanggan;
(3) Meningkatkan jejaring kerja sama dalam peningkatan kualitas layanan melalui kegiatan berliterasi.

Unesa dengan pusat studi literasinya berupaya mendalami dan mengembangkan literasi lewat berbagai upaya.

BAB II KINERJA PLU TAHUN 2020
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA PLU TAHUN 2020
A. Análisis CapaIan Kinerja Tahun 2020

  1. Sasaran strategies
  2. Adefinisi dan alasan penetapamn indikator kinerja yang harus ditingkatkan
  3. Membandingkan target dan realisasi Minerva
  4. Membandingkan realisasi captain Minerva tahu ini dental tahu sebelumnya
  5. Membandingkan dental standar Nasional (aika ada)
  6. Analysis penyebab keberhasilan/kegagalan tau penin gkjatanb/penuruan serta alternatif solusi
  7. Analysis atlas efisiensi penggiunnan Sumber daya
  8. Analysis program yang menunjang keberhasilan
  9. Data opendukung berupa foto dll.
    Kinerja Pusat Studi Literasi, LPPM, Unesa, anggaran yang dikelola serta kerja sama pada tahun 2020 adalah sebagai berikut.
    No SASARAN STRATEGIS DEFINISI DAN/ATAU ALASAN REALISASI CAPAIAN ANALISIS PENYEBAB KEBERHASILAN/ KEGAGALAN FOTO
    1 Penyusunan Renstra Rencana Strategis atau renstra perlu disusun untuk tahun 2020—2023 (sesuai dengan masa jabatan) sudah selesai berhasil karena sinergi semua pihak
    2 Penyusunan manual literasi akademik Manual literasi akan menjadi bahan yang bermanfaat untuk pengembangan literasi mahsiswa dan/atau siswa draf 1 sudah selesai LPPM
    Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Baca Tulis salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Digital salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Budaya dan Kewargaan salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Finansial salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Akademis dalam Pendidikan: Numerasi dan Literasi Sains salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang: Membaca Terpandu dan Membaca Nyaring (Seri I) salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang: Membaca Bersama dan Membaca Mandiri (Seri II) salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang: Menulis Mandiri (Fiksi dan Nonfiksi) (Seri III) salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang dalam Pembelajaran, 6 Juni 2020: Membaca Terpandu dan Membaca Nyaring Kontribusi Unesa dalam meningkatkan mutu pembelajaran Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang dalam Pembelajaran, 13 Juni 2020: Membaca Bersama dan Membaca Mandiri Kontribusi Unesa dalam meningkatkan mutu pembelajaran Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang: Menulis Bersama dan Menulis Terpandu (Seri IV) salah satu wujud kepedulian LPPM Unesa terhadap mutu Pendidikan dalam pandemi covid-19 Sudah terlaksana, Daring
    Literasi Berimbang dalam Pembelajaran, 20Juni 2020: Menulis Mandiri (Fiksi dan Nonfiksi) Kontribusi Unesa dalam meningkatkan mutu pembelajaran Sudah terlaksana, Daring
    Sarasehan Literasi@Unesa 2020, 12 September 2020: Literasi dalam Pembelajaran sarasehan literasi merupakan kegiatan yang mempromosikan Unesa sekaligus mempromosikan lpentingnya literasi kepada masyarakat Sudah terlaksana, Daring LPPM
    Sarasehan Literasi@Unesa 2020, 26 September 2020: Asesmen Literasi dan Numerasi sarasehan literasi merupakan kegiatan yang mempromosikan Unesa sekaligus mempromosikan lpentingnya literasi kepada masyarakat Sudah terlaksana, Daring LPPM
    3 Sarasehan Literasi@Unesa 2020, Sabtu, 31 Oktober 2020: LITERASI UNTUK KESEHATAN MENTAL sarasehan literasi merupakan kegiatan yang mempromosikan Unesa sekaligus mempromosikan lpentingnya literasi kepada masyarakat Sudah terlaksana, Daring LPPM
    4 Sosialisasi GLS (kerja sama dengan GLS) sejak 2017 GLS
    5 Sosialisasi GLS (kerja sama dengan Kemenag Jatim) sudah terlaksana (tahun 2020) Kemenag Jatim
    6 Kerja sama dengan DP5A Surabaya (Kampung Pendidikan), sejak 2018 sudah terlakasana, mulai 2020 dialihkan ke PSGA DP5A (Dinas pengendalian Penduduk, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak) dan LPPM
    8 Pengiriman buku ke sekolah (kerja sama dengan Asia Foundation) Sudah ada 2x pengiriman dari Asia Foundation dan sudah disebarluaskan ke beberapa sekolah Asia Foundation dan LPPM
    9 Kerja sama dengan Litara Foundation, sejak 2018 Upaya terj. bahasa Jawa dimuat di Let’s Read secara berkala. Pantauan hasil workshop penerjemahan buku Asia Foundation dari bahasa Indonesia/Inggris ke bahasa Jawa Litara Foundation (20 juta) dan Unesa (20 juta).
    10 Program Inovasi, 2018—2020 Selesai 11 September 2020 The Palladium International
    Rp658.150.000
    11 Lomba Menulis 750 kata dalam rangka Sarasehan Literasi@Unesa IV Sudah terlaksana, daring
    12 Berjejaring dengan pihak eksternal (instansi/lembaga di luar Unesa) Sosialisasi seperti ke Madura atau Madiun Sudah terlaksana, luring dan daring LPPM dan PEMDA
    13 Memotivasi Penelitian dan PKM Literasi dilakukan dalam perkuliahan dan saat sosialisasi Setiap tahun Se-Unesa

Berikut adalah deskripsi program
1) Penyusunan Renstra pusat studi literasi mengikuti sistematika dan alur renstra LPPM.
2) Penyusunan manual literasi akademik (draf) akan digunakan sebagai panduan untuk mahasiswa Unesa supaya mengembangkan kemampuan literasi saat menempuh studi.
3) Sarasehan literasi@Unesa menyosialisasikan literasi ke warga Unesa, komunitas literasi, dan masyarakat umum.
4) Sosialisasi GLS dilaksanakan secara masif dan berkelanjutan ke beberapa sekolah sasaran dari Kemdikbud.
5) Sosialisasi GLS dengan Kemenag Jatim didahului dengan penyusunan panduan GLS untuk madrasah.
6) Kerja sama dengan DP5A dilatarbelakangi oleh pembentukan kampung literasi dan pemuda penggerak literasi dalam wadah Kampung Pendidikan: Kampunge Arek Surabaya
7) Pengiriman buku ke sekolah menjadi salah satu ikon dari Pusat Studi Literasi Unesa. Asia Foundation mengirimkan buku-buku yang kemudian diesbarluaskan ke beberapa sekolah yang memerlukan. Pada awalnya, Lembaga cukup mengirimkan surat saja. Terkait dengan banyaknya permintaan, dibuatkan google form untuk permohonan bantuan buku tersebut (sejak Agustus 2020).
8) Kerja sama dengan Litara Foundation diwujudkan dengan pelatihan penerjemahan buku-buku Asia Foundation ke dalam bahasa Jawa.
9) Program Inovasi dimulai tahun 2018—11 Sepetember 2010. Judul program ini adalah “Pelatihan dan Pendampingan Literasi Ramah Anak untuk Sekolah Dasar di Sidoarjo”. Dalam hal ini ada 15 SD dari Kecamatan Taman dan Sidoarjo yang ikut program Inovasi.
10) Berjejaring dengan pihak eksternal (instansi/lembaga di luar Unesa) seperti ke Madiun, Madura, dll dalam rangka mengembangkan PLU sebagai salah satu unggulan Unesa.
11) Penebaran motivasi untuk melakukan penelitian dan PKM bertema literasi dilakukan untuk mahasiswa saat perkuliahan dan untuk dosen/ guru melalui berbagai kesempatan.


BAB III LAPORAN KEGIATAN

Laporan kegiatan terdiri atas

  1. Laporaan kegiatan Inovasi
  2. Laporan Sarasehan Literasi@ Unesa 2020

Laporan kegiatan terdapat dalam lampiran

BAB IV. PENUTUP

Kegiatan Pusat Studi Literasi LPPM Unesa berupaya memenuhi prosedur dan tata cara seperti yang berlaku di Unesa. Apa yang telah dilaksanakan pada tahun 2020 ini semoga menjadi landas tumpu yang baik untuk ke depan. Semoga gaung literasi semakin membahana dan semoga dapat ikut berpoeran serta memajukan Unesa dan bangsa, amin.

Lampiran

  1. Laporan kegiatan Inovasi
  2. Laporan Kegiatan sarasehan Literasi@Unesa 2020

Final Program Narrative Report
INOVASI Partnerships and Grants Program
I. GENERAL INFORMATION
Program Name Australia-Indonesia Partnership for Innovation Facility for Indonesia’s School (INOVASI)
Client/Donor Name Department of Foreign Affairs and Trade (DFAT)
Grantor Name PT. Palladium International Indonesia
Grantee Name Pusat Studi Literasi, LPPM. Unesa
Grantee Project
Name Pelatihan dan Pendampingan Literasi Ramah Anak untuk Kelas Awal di Kabupaten Sidoarjo
Grant Agreement Number IDINO-GA-0009
Grant Agreement
Start Date 12/09/2018 Grant Agreement End Date 11/09/2020
Grant Agreement Duration 10 bulan diperpanjang 12 bulan Project Province: Jawa Timur
Budget Total Grant Amount:
658,150,000 Total Spent in Reporting Period: 635.484.033 Burn Rate (budget vs actual, in %): 96,6%
Number of Partner schools and Location 15 SD di Kecamatan Taman dan Kecamatan Sidoarjo

II. SUMMARY OF KEY HIGHLIGHTS/RANGKUMAN KEGIATAN KUNCI
(Please describe the key highlights of the grantee pilot that have utmost contribution and greatest role in improving students’ learning outcomes / Mohon jelaskan kegiatan kunci dari pilot mitra yang memberikan kontribusi dan peran paling besar dalam peningkatan hasil belajar siswa)

Dalam menjalankan Balanced Literacy Approach, Literasi berimbang, beberapa kegiatan telah dilaksanakan yaitu
(1) Pelatihan pendamping/pemonev tentang Gerakan Literasi Sekolah dan Literasi Berimbang/Balanced Literacy,
(2) Pelatihan Warga Sekolah (termasuk Fasda/TLS tentang Gerakan Literasi Sekolah dan Literasi Berimbang atau Balanced Literacy
(3) Pelatihan Fasilitator daerah untuk pembentukan Tim Literasi Sekolah (TLS)
(4) Pendampingan dan Monev Balanced Literact Framework yang terdiri atas beberapa komponen seperti pendampingan pembelajaran keterampilan membaca, keterampilan menulis, serta pengembangan kosakata
(5) Penyediaan buku Fiksi dan lingkungan kaya teks (termasuk pembelian document keeper untuk siswa untuk portofolio)

Kegiatan pelatihan pendamping/pemonev dilakukan di awal dengan tujuan memberikan pengetahuan lengkap terkait program termasuk pendekatan balanced literacy kepada pendamping dan pemonev. Hal ini dilakukan karena pendamping/pemonev adalah core person yang akan terjun di lapangan untuk mendampingi sekolah dalam mengimplementasikan Balanced Literacy Approach. Kegiatan juga dilakukan terhadap warga sekolah serta fasilitator daerah dengan tambahan kegiatan yaitu pembentukan Tim Literasi Sekolah. Tujuan dari kegiatan pelatihan warga sekolah termasuk guru adalah meningkatkan kompetensi pedagogik dan profesional guru dalam mengembangkan keterampilan literasi siswa SD kelas awal. Dari kegiatan pelatihan yang telah dilakukan didapatkan bahwa ada kecenderungan peningkatan pemahaman peserta pelatihan yang diukur dengan instrumen yang telah dikembangkan dalam memahami makna-makna dari komponen literasi berimbang, budaya literasi, serta Gerakan Literasi Sekolah. Kegiatan penyediaan buku fiksi dan lingkungan kata teks dilakukan untuk mendukung implementasi Gerakan Literasi Sekolah serta Balanced Literacy Approach.
Kegiatan (1) Pelatihan pendamping/pemonev tentang Gerakan Literasi Sekolah dan Literasi Berimbang/Balanced Literacy Diikuti 35 orang peserta, L: 14, P: 21.
Setelah berlangsungnya kegiatan ini peserta memahami mengenai program dan pembelajaran dengan literasi berimbang. Hal itu tampak dari hasil tabel TIP mereka, yakni tabel tahu, ingin, dan pelajari.
Kegiatan (2) dan (3) Pelatihan Warga Sekolah (termasuk Fasda/TLS tentang Gerakan Literasi Sekolah dan Literasi Berimbang atau Balanced Literacy, diikuti oleh 62 peserta: 19 laki-laki dan 43 perempuan.
Setelah berlangsungnya kegiatan (2)dan (3) ini peserta memahami mengenai program dan pembelajaran dengan literasi berimbang. Hal itu tampak dari hasil tabel TIP mereka, yakni tabel tahu, ingin, dan pelajari.
Dampak dari dua kegiatan ini adalah hasil langsung yang ada di TOC, yakni guru memahami tupoksi Tim Literasi Sekolah (dengan difasilitasinya workshop tim literasi, diharapkan guru menyadari pentingnya keberadaan tim literasi sekolah); memahami komponen dan strategi literasi dalam pembelajaran literasi berimbang yang ramah anak (Membaca, Menulis, Kosakata); menyadari pentingnya lingkungan kaya teks dalam mendukung pembelajaran literasi berimbang yang ramah anak; memahami tahapan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran literasi berimbang yang ramah anak.
Adapun kepala sekolah dan pengawas menyadari pentingnya keberadaan Tim Literasi Sekolah (kepala sekolah mengetahui urgensi keberadaan tim literasi sekolah); menyadari pentingnya pembelajaran literasi berimbang ramah anak di kelas awal; menyadari pentingnya lingkungan kaya teks dalam mendukung pembelajaran literasi berimbang ramah anak; menyadari pentingnya monev terhadap pembelajaran literasi berimbang ramah anak.
Kegiatan (4) adalah Pendampingan dan Monev Balanced Literact Framework yang terdiri atas beberapa komponen seperti pendampingan pembelajaran keterampilan membaca, keterampilan menulis serta pengembangan kosakata. Kegiatan ini diikuti oleh semua komponen (kepala sekolah, guru, dosen pemonev, pengawas, para siswa). Kegiatan ini diikuti oleh kegiatan (5). Dari kegiatan inilah hasil antara terwujud, yakni
(a) untuk Guru: Semua guru kelas 1,2,3 menjadi anggota Tim Literasi Sekolah (guru mau terlibat aktif sehingga berkontribusi mendorong gerakan-gerakan literasi di sekolah); Guru mampu melaksanakan strategi literasi dalam pembelajaran literasi berimbang yang ramah anak (membaca, menulis, kosakata); Guru mampu mengembangkan lingkungan kaya teks dalam mendukung pembelajaran literasi berimbang yang ramah anak di lingkup kelas; Guru mampu merencanakan dan melaksanakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran literasi berimbang yang ramah anak.
(b) untuk kepala sekolah dan pengawas: Kepala sekolah membentuk Tim Literasi Sekolah (tim literasi sekolah yang berfungsi dan terarah oleh kepala sekolah. Dengan cara inilah literasi berimbang yang ramah anak dan lingkungan kaya teks dapat memberikan kontribusi positif dalam mendorong siswa aktif berliterasi; Kepala sekolah menetapkan literasi berimbang yang Ramah Anak sebagai kerangka pembelajaran kelas awal; Kepala sekolah mengembangkan lingkungan kaya teks dalam mendukung pembelajaran literasi berimbang yang Ramah Anak di lingkup sekolah; Kepala Sekolah dan Pengawas melaksanakan monev.
Dari berbagai kegiatan tersebut, kegiatan kunci yang memberikan kontribusi dan peran paling besar dalam peningkatan hasil belajar siswa adalah kegiatan 4 diikuti kegiatan 5. Akan tetapi, kegiatan 4 tidak akan terwujud jika tidak ada kegiatan 1, 2, dan 3 . Jadi, pada dasarnya, semua kegiatan punya peran masing-masing yang saling mendukung.
Dalam hal ini kerangka berpikir literasi berimbang atau Balanced Literacy Approach berhasil diterapkan untuk mengembangkan literasi pada anak. Program yang dilakukan di sini mempertimbangkan keterampilan membaca, menulis, dan pengembangan kosakata. Ketiga komponen ini dijabarkan lebih detail sebagai berikut:

Dalam pengembangan program literasi dengan kerangka Literasi Berimbang atau Balanced Literacy, diberlakukan pengaturan sebagai berikut:

  1. Sekolah menyediakan waktu setiap hari untuk pembelajaran literasi yang terintegrasi dengan pembelajaran sekolah.
  2. Setiap hari ada jadwal yang pembelajaran membaca untuk memahami teks.
  3. Setiap hari ada waktu bagi siswa untuk berbicara tentang buku yang mereka baca (Hal ini didasarkan pada prinsip bahwa berpikir dan berbicara adalah dasar dari literasi)
  4. Setiap hari siswa mendengarkan orang dewasa (guru/kepala sekolah) untuk mendapatkan keteladanan dan contoh bagaimana membaca yang baik dan dapat menumbuhkan apresiasi terhadap kegiatan membaca.
  5. Setiap hari siswa menulis sederhana tentang sesuatu hal yang bermakna dan kontekstual. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kebiasaan baik dan untuk memeroleh umpan balik tentang kemampuan menulis mereka. Dalam program ini terwujud lewat portofolio yang tagihannya satu tulisan per tema (tulisan yang tiap hari tidak dikumpulkan).
  6. Bahan-bahan pembelajaran tematik di SD digunakan untuk mencapai tujuan membaca, menulis, mendengarkan, dan berbicara, selain untuk mencapai tujuan pembelajaran tematik itu sendiri.
    Kunci utama dalam penerapan komponen di atas adalah kompetensi pedagogik dan profesional para guru dan didukung oleh kebijakan manajerial pimpinan sekolah yang memahami pentingnya pembelajaran literasi di sekolah, terutama di SD kelas awal.
    Beberapa tantangan yang dihadapi selama berjalannya program di antaranya: 1. Penyesuaian jadwal kegiatan dengan jadwal sekolah
  7. Pergantian kepemimpinan.
  8. Pemahaman orang tua terkait dengan perlindungan anak (consent letter).

Terkait dengan hal tersebut ada beberapa hal yang dilakukan oleh tim, di antaranya komunikasi lewat tatap muka atau daring, penjelasan tambahan untuk pemimpin baru dan orang tua.

III.BENEFICIARIES/PENERIMA MANFAAT
A. Explain how beneficiaries responded to the grantee implementation. What significant impact was there and for any particular group(s), why?/ Jelaskan bagaimana tanggapan penerima manfaat terhadap implementasi program mitra. Apa dampak yang signifikan pada kelompok tertentu, mengapa?
Penerima manfaat (guru, kepala sekolah, tenaga kependidikan (tendik), komite, pengawas, siswa, beberapa orang tua) pada umumnya merasa senang dan berterima kasih terhadap implementasi program. Hasil FGD Hasil FGD dalam workshop refleksi menunjukkan dampak yang positif. Misalkan Pak SKM (Laki-laki), guru di SD Trosobo I menyebutkan bahwa program ini sangat bermanfaat, menarik, dan membantu sekolah. Pada pelaksanaannya, siswa antusias dan mengalami perubahan perilaku. Hal tersebut dikarenakan komite sekolah dan kepala sekolah mendukung. Yang sudah berjalan secara optimal adalah membaca 15 menit di awal pembelajaran. Pembelajaran kata baru ditunjukkan secara kontekstual dilengkapi penggunaan pohon kata untuk mendukungnya.

Program ini mendapatkan dukungan sepenuhnya dari kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat. Kepala sekolah terlibat sepenuhnya dan membentuk tim literasi sekolah (TLS). Menurut HS (laki-laki), Kepala Sekolah SDN Cemengkalang, TLS membuat perencanaan dan pelaksanaan program literasi lebih terarah dan fokus. Selain itu, orang tua dan masyarakat juga diajak memahami dan berlibat dalam program tersebut sehingga mendukung. Hal tersebut disampaikan pada FGD dengan guru dan warga sekolah, guru FR (Perempuan) menyampaikan bahwa dalam pelaksanaan balanced literacy approach, semua anak dilibatkan dan tidak dibeda-bedakan, orang tua ikut mengetahui perkembangan siswa melalui informasi yang diberikan kepada mereka lewat jejaring sosial. Orang tua tampak antusias untuk mendapatkan informasi tentang pembelajaran di kelas putra-putrinya. Selain itu, orang tua ikut membelikan buku untuk disumbangkan di sekolah. Kepala Sekolah SDN Gilang II, Ibu Ur (perempuan) menyatakan bahwa setelah mengetahui pentingnya bacaan untuk para siswa dan sekolah merasa kekurangan bacaan, dia membuat proposal ke beberapa perusahaan untuk mendapatkan sumbangan buku. Alhamdulillah, hal tersebut telah terwujud.

Pada sisi lain,implementasi program dianggap sangat bermanfaat untuk pengembangan kemampuan membaca dan menulis anak. Selain itu, Pak SKM (lak9-laki) dari SDN Trosobo I menyatakan bahwa program ini membantunya meningkatkan kemampuan guru dalam mengajarkan membaca dan menulis pada anak.

Adapun dampak signifikan terhadap warga sekolah adalah sebagai berikut. a. Guru
1) Sebelum kegiatan INOVASI, kegiatan membaca masih kurang, setelah ada kegiatan ini , guru jadi lebih tahu kegiatan literasi di kelas ini dan guru lain mulai mengenalkan di kelas 4,5,6.
2) Beberapa kelas rendah menggunakan buku berjenjang (sekolah yang sudah menerima bantuan buku berjenjang dari YLAI/USAid atau sekolah yang mengupayakan sendiri), namun keberadaan buku berjenjang dirasa masih sedikit. Oleh sebab itu, pemanfaatan buku paket untuk waktu baca masih dilakukan. Yang dipraktikkan adalah membaca nyaring, dll.
3) Pembelajaran dengan strategi literasi, khususnya literasi berimbang,

b. Siswa
1) Peningkatan Motivasi Baca
a) Siswa asyik membaca dan punya rasa ingin tahu yang tinggi
b) Ada program ‘bocah tertawa (Rabo Membaca sehingga Terinspirasi Tambah Wawasan)” dan membaca 15 menit di
awal,
c) Siswa yang belum bisa membaca, sangat termotivasi untuk belajar membaca dengan adanya big-book,
d) Siswa yang biasanya suka mengganggu temannya yang mengerjakan tugas (karena sudah selesai mengerjakan tugas), menggunakan waktunya untuk membaca buku-buku yang ada di pojok baca,
e) Waktu tunggu masuk kelas (terutama untuk sekolah yang menerapkan dua atau tiga shift) dimanfaatkan siswa
untuk membaca buku yang tersedia di teras sekolah.
f) Hampir semua buku sudah dibaca oleh siswa dan mereka meminta ada buku-buku yang baru;
g) Kebiasaan membaca menular dari satu siswa kepada yang lainnya;

2) Peningkatan Kemampuan Menulis
a) Ada jurnal siswa untuk membaca dan membuat ringkasan (siswa antusias membaca dan menulis),
b) Siswa mulai sering menuliskan kata yang tidak dipahami,
c) Kosakata siswa semakin banyak (meningkat dengan sangat baik),

3) Perubahan Perilaku,
a) Perilaku siswa berubah yang mula-mula terburu-buru ke kantin saat istirahat menjadi ke perpustakaan atau pojok
baca,
b) Kepercayaan diri meningkat: siswa berani bercerita di depan kelas, bahkan untuk siswa yang semula cenderung
pendiam dan rendah diri,
c) Majalah dinding yang sebelumnya kosong menjadi sering terisi,

4) Dukungan Sekolah/Komite
Komite sekolah dan kepala sekolah mendukung (perencanaan dilakukan oleh Tim Literasi Sekolah),

c. Kepala sekolah dan/atau Pengawas
1) Memperhatikan dan mengupayakan lingkungan kaya teks
2) Mengimbaskan program kepada kelas lain yang tidak ikut program (siswa kelas setara yang tidak ikut program sediakan bahan yang sama)
3) Melaksanakan diseminasi secara berkelanjutan karena guru kelas lain (termasuk kelas tinggi: kelas 4,5, dan 6) ingin tahu.
4) Membangun jejaring kerja sama dengan pihak luar, termasuk dengan perpustakaan daerah, untuk pengembangan literasi.

B. Please fill in the table /Isilah tabel di bawah.)     

No

Activity Date

Name of Activity
Number of Participants From:
Kepala sekolah Guru Dinas/Pemda/ lain Pengawas Pemonev/Fasda/Penga mbil Data
Siswa
Lainnya
L P D L P D L P D L P D L P D L P D L P D
L P L P L P L P L P L P L P
1 18 Okt 18 Koordinasi Program 2 12
2 05-06 Okt
2018 Pelatihan pemonev/ pendamping 13 12 1 9
4 12 Okt 2018 Koordinasi Program 2 12
5 13 Okt 2018 Pelatihan warga sekolah 5 8 10 35 2 2
6 14 Okt 2018 Pelatihan warga sekolah 5 8 10 35 2
7 27 Okt 2018 Pengambilan data awal 3 12 735 675 17 9
8 16 Nov 2018 Koordinasi program 1 9
9 19—23 Nov
2018 Monev dosen 1 9 6 735 675 17 9
10 26—30 Nov
2020 Monev kepala sekolah 1 5 8 735 675 17 9
11 6 Des 2018 Koordinasi program 1 9
12 11 Des 2018 Diskusi pelaksanaan program 5 8 4 11 1 9
13 22 Jan 2020 Koordinasi program 1 9
14 28—31 Jan
2020 Monev dosen 2 9 6 735 675 17 9
15 4—13 Feb
2020 Monev Kepsek dan pengawas 2 5 8 2 735 675 17 9
16 Feb 2020 Diseminasi 35 77
17 19 Mar 2020 Koordinasi program 1 9
18 24—25 April
2020 Lokakarya Penguatan 6 9 35 77 2 1 9
19 9—18 Mei 2020 Monev dosen 3 2 7 735 675 17 9
20 9—18 Mei 2020 Monev Kepsek 3 6 9 735 675 17 9
21 14 Mei 2020 Pengambilan data kedua 1 14 735 675 17 9
22 20 Mei 2020 Koordinasi program 1 9
23 9—18 Mei 2020 Monev dosen 4 3 7 735 675 17 9
24 9—18 Mei 2020 Monev Kepsek 4 6 9 735 675 17 9
25 12 Juni 2020 Koordinasi program 1 9
26 14—20 Juni 2020 Monev dosen 5 5 6 735 675 17 9
27 14—20 Juni 2020 Monev Kepsek 5 6 9 735 675 17 9
28 20 Juni 2020 Pengambilan data ketiga 3 12 735 675 17 9
29 21 Juni 2020 Koordinasi program 1 9
30 03 Juli 2020 Refleksi Program 6 9 8 37 2
31 16 Juli 2020 Koordinasi program 1 9
32 5 Aug 2020 Koordinasi program 1 9
33 22 Aug 2020 Koordinasi Program 1 9
Keterangan:

  1. Jumlah pemonev kepala sekolah berulang periode September—Februari.
  2. Jumlah pemonev kepala sekolah berulang periode April—Juni.
  3. Jumlah siswa yang dimonev ataupun yang diambil data tes juga berulang.
  4. Koordinasi TIM inti berulang.
  5. Monev Pengawas berulang.
  6. Pemonev Dosen ada yang berulang, ada yang tidak.
  7. Jumlah pengambil data ada yang berulang ada yang tidak.
  8. Jumlah guru saat pelatihan, penguatan, dan refleksi berulang.
    Note/catatan:
    D (Disabilitas): please define the meaning of Disabilitas/mohon jelaskan definisi Disabilitas yang digunakan oleh mitra.
    Istilah “disabilitas” dimaknai seperti yang terdapat dalam UU No 8 Tahun 2016, tentang Penyandang Disabilitas, yakni “orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitas untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak”. Di sekolah mitra disabilitas merujuk pada berbagai jenis, antara lain: tuna rungu, tuna daksa, tuna grahita, down syndrome ringan, hiperaktif, low vision, disgrafia (kesulitan belajar), lambat belajar.
    Perlakuan khusus Disabilitas
    Terdapat beberapa siswa disabilitas yang tersebar di beberapa sekolah sasaran. Berdasarkan hasil diskusi tim Inovasi Unesa dengan pihak sekolah, siswa yang mengalami disabilitas mendapatkan perlakuan khusus, seperti mendapatkan guru pendamping khusus yang dibiayai oleh orang tua masing-masing anak (SDN Lemah Putro I). Akan tetapi, ada beberapa siswa yang orang tuanya tidak mampu untuk memberikan pendamping pada anaknya. Oleh sebab itu, tim dan sekolah mengambil langkah untuk memberikan teknik tutor sebaya.
    Adapun daftar anak disabilitas dapat dilihat melalui laman berikut (http://bit.ly/list_dis).

III. GENDER AND SOCIAL INCLUSION (GESI)/GENDER DAN INKLUSI SOSIAL
Explain how GESI aspects were implemented, challenges and how grantee responded to the challenge(s). Please provide recommendations on how GESI could be better integrated into the program in the future. This includes how (if) the grantee addressed issues related to disability, gender, poverty, language of instruction/ mother tongue and other factors related to social exclusion. Explain if grantee had specific program or activity that focus on specific students group that required special support or attention e.g slow learning children, child with special need, etc ?/ Jelaskan bagaiman aspek GESI dilaksanakan, tantangan yang dihadapi dan bagaimana Mitra menyikapi tantangan tersebut. Beri rekomendasi tentang bagaimana integrasi GESI yang lebih baik ke depan, termasuk bagaimana mitra membahas masalah yang berkaitan dengan disabilitas, gender, kemiskinan, Bahasa pengantar/Bahasa Ibu, dan faktor-faktor lain terkait inklusi sosial. Jelaskan jika Mitra mempunyai program atau kegiatan tertentu untuk kelompok siswa yang membutuhkan dukungan atau perhatian khusus (anak lamban belajar, anak berkebutuhan khusus, dsb?
A. Pelaksanaan GESI

  1. Pembagian kelompok belajar sudah heterogen dalam hal jenis kelamin. Pada awalnya ada yang membagi kelompok berdasarkan jenis kelamin, contoh pembagian kelompok oleh guru kelas I (NF) di SDN Banjarbendo.
  2. Pembagian kelompok belajar dengan anak ABK masuk dalam bagian kelompok belajar
    (sebelumnya ada kelompok yang tidak mau menerima ABK),
  3. Guru pendamping (dua guru khusus) di SDN Lemah Putro I memberikan waktu ekstra kepada siswa ABK.
  4. Buku-buku yang disumbangkan ke sekolah di-screening terkait ramah anak.
    B. Tantangan yang dihadapi
  5. Pada beberapa sekolah yang memiliki karakteristik keagamaan anak-anak dalam hal duduk/ belajar dibedakan tempatnya antara laki-laki dan perempuan
  6. Guru memiliki tugas ganda karena harus mengontrol dan mendampingi siswa regular dan ABK
  7. Anak-anak reguler banyak yang tidak mau membantu temannya yang ABK
    Sikap dalam menghadapi tantangan
    Melakukan sosialisasi GESI dan pendampingan
  8. Guru menyampaikan kepada siswa bahwa dalam hal bekerja dan berdiskusi tidak perlu membedakan antara laki-laki dan perempuan, sehingga mereka harus berbaur dan bekerja sama
  9. Kepala sekolah memilih guru kelas awal yang mampu memahami karakter siswa, agar guru lebih telaten memperlakukan siswa inklusi
  10. Siswa diberi pemahaman bahwa siswa ABK dan mereka sama-sama makhluk Tuhan yang harus diberikan kasih sayang agar dapat belajar sama seperti mereka
    C.

Rekomendasi tentang bagaimana integrasi GESI yang lebih baik ke depan.
Sekolah perlu bekerja sama dengan pihak terkait, terutama komite sekolah dalam menyampaikan informasi dan memperoleh dukungan agar sekolah dapat mengurangi kesenjangan yang terjadi di sekolah terkait dengan disabilitas, gender, kemiskinan, bahasa pengantar/bahasa ibu, dan faktor lain terkait inklusi sosial.
Perlu ada dukungan guru khusus yang menangani disabilitas.
Dalam hal ini Unesa, selain mempunyai Pusat Studi Literasi, juga mempunyai “Pusat Studi Gender dan Anak” serta “Pusat Studi Layanan Disabilitas” yang siap bekerja sama. Pada sisi lain, bahasa pengantar dengan mencampur bahasa daerah (Jawa) di kelas 1 SD sasaran dilakukan guru untuk berbagai keperluan. Secara umum sebetulnya tidak ada kesenjangan dan kesulitan siswa menggunakan bahasa Indonesia karena sejak dini mereka sudah menggunakannya.
Page

D. Program atau kegiatan tertentu untuk kelompok siswa yang membutuhkan dukungan atau perhatian khusus pada anak yang lamban belajar dan anak berkebutuhan khusus
Yang disampaikan dan dilakukan sekolah adalah pemberdayaan teman sebaya untuk menjadi pendamping ABK (tutor teman sebaya) karena tidak semua sekolah mempunyai guru utama dan guru pendamping ABK di tiap kelas. Tutor teman sebaya dipilih oleh guru dari siswa yang pandai dan mampu bersosialisasi dengan baik. Dia mendapat tugas untuk ikut mendampingi siswa ABK yang kesulitan dengan pelajaran.

IV. CHILD PROTECTION/PERLINDUNGAN ANAK
(Please explain any child protection issues/concerns during implementation. Please suggest how stakeholders (parents, teachers, school principals etc) and the environment (schools, home and society) can provide better protection for children so that they are able to learn more effectively / Penjelasan singkat tentang isu yang muncul terkait perlindungan anak selama pelaksanaan program. Mohon saran tentang bagaimana pemangku kepentingan (guru, orang tua, kepala sekolah dll) serta lingkungan (sekolah, rumah, masyarakat) dapat memberikan perlindungan yang lebih baik bagi anak sehingga mereka dapat belajar lebih efektif

A.
Isu yang muncul terkait tentang perlindungan anak dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Dari hasil monev diperoleh fakta dari laporan guru bahwa ada beberapa orang tua merasakan ketidaknyaman jika diminta menandatangani surat perlindungan anak dan bahkan menimbulkan kecurigaan mereka terhadap program perlindungan anak. Hal ini dapat disebabkan
    a. kurangnya pemahaman orang tua tentang prosedur perlindungan anak,
    b. kurangnya sosialisasi dari pihak sekolah kepada orang tua,
    c. masih berkembangnya budaya lisan dan saling percaya di masyarakat, sehingga orang tua memandang prosedur resmi yang dilakukan terhadap perlindungan anak dengan cara menandatangani form persetujuan orang tua secara tertulis adalah sesuatu yang aneh.
    Dalam hal ini, dilakukan pendekatan kepada kepala sekolah dan guru untuk membantu meyakinkan pada beberapa orang tua bahwa hal tersebut diperlukan. Para orang tua diberi penjelasan mengenai pengisian form persetujuan, dan sudah dijelaskan prosedur dalam perlindungan anak. Namun, karena pengisian format-format semacam ini merupakan hal yang baru bagi orang tua di Indonesia, khususnya di sekolah mitra, maka pengisian form persetujuan dianggap sebagai sesuatu yang aneh karena dianggap selama ini tidak ada masalah yang dihadapi orang tua terkait dengan aktivitas-aktivitas anak yang sebenarnya merupakan aktivitas yang memerlukan perlindungan orang tua dan guru serta lingkungan anak. Selama ini orang tua berpendapat bahwa publikasi foto dan kegiatan anak dapat dilakukan tanpa izin, bahkan mereka senang jika foto anak mereka dipublikasikan. Oleh sebab itu ada semacam rasa was-was terhadap tanda tangan yang dimaksudkan.
  2. Dari hasil reviu buku yang beredar di masyarakat dan sekolah diperoleh fakta bahwa terdapat beberapa buku yang mengandung unsur kekerasan yang perlu di-screening lalu disortir dengan harapan buku-buku yang digunakan di sekolah adalah buku-buku yang tidak mengandung unsur kekerasan pada anak. Pada proses screening diperoleh fakta bahwa terdapat buku yang masih mengandung unsur kekerasan, baik fisik, tuturan, maupun psikis. Dari analisis resikonya, unsur kekerasan pada buku ini memiliki resiko yang tinggi karena akan berdampak pada perilaku dan karakter anak secara fisik, psikis, maupun komunikasi. Proses screening dilakukan di Unesa oleh tim yang bertugas. Proses sortir menggunakan panduan dari Inivasi. Intinya, buku-buku yang disortir harus bebas dari resiko kekerasan pada anak. Dalam proses sortir ini tim Unesa tidak secara langsung melibatkan guru untuk menyortir karena sudah dipercayakan kepada expert, namun dalam proses pembagian buku kepada sekolah-sekolah, Tim Inovasi Unesa menyampaikan bahwa buku-buku yang dibagikan sudah melalui proses sortir kekerasan pada anak dengan memberikan contoh buku yang tersortir. Dari aktivitas ini guru secara langsung dapat mempelajari dan memahami pentingnya proses sortir buku dari kekerasan anak. Tentang pemahaman proses sortir ini juga sudah dijelaskan pada saat pelatihan implementasi program. Selain itu setiap sekolah mendapatkan poster tentang “Memilih Buku Bacaan yang Baik” (infografis yang dikenbangkan oleh GLS). Hal itu dapat dilihat di …
  3. Adanya kebiasaan mengambil foto anak dan mengunggah di media sosial merupakan permasalahan yang agak sulit diatasi. Hal ini karena dorongan untuk bisa eksis di dunia maya melalui unggahan fotofoto, dan kurangnya kesadaran bahwa foto yang diunggah di media massa dapat menimbulkan ekses yang dapat merugikan pihak pengunggah. Unggahan foto anak di dunia maya memiliki risk assesment tinggi terhadap kekerasan pada anak.

Dalam hal ini, terjadi perbedaan perilaku antara guru yang belum mendapat induksi dengan yang telah mendapat induksi dalam mengambil dan mengunggah foto-foto. Guru-guru yang sudah mendapat induksi lebih memerhatikan hak perlindungan anak dibandingkan dengan guru-guru yang belum mendapat induksi. Dalam mengambil foto, guru yang sudah mendapatkan induksi program perlindungan anak lebih berhati-hati mengambil foto anak, yakni menghindari wajah anak, identitas anak, maupun identitas sekolah untuk dapat dimanfaatkan oleh orang yang memiliki itikad melakukan kekerasan pada anak (grooming). Jika kegiatan mengambil gambar atau foto anak di kelas maupun di lingkungan sekolah sulit dilakukan dengan menghindarkan atau menyamarkan wajah maupun identitas anak, maka pihak sekolah perlu membuat dan menyampaikan form persetujuan orang tua. Orang tua yang mengisi dan menandatangani form persetujuan menunjukkan bahwa orang tua setuju dilakukan pengambilan foto dan pengunggahan, walaupun tetap perlu diperhatikan oleh guru bahwa kepercayaan yang diberikan kepada pihak sekolah terkait perlindungan anak tetap akan menjadi dasar bagi guru pada saat menggunakan foto dan identitas anak tersebut bagi keperluan program.


  1. Guru merancang program pembelajaran yang menggunakan perlindungan anak sebagai basis perlakuan terhadap siswa. Dalam monev, guru di sekolah-sekolah mitra sudah memerhatikan hal ini dengan cara:
    a. Mempersiapkan pembelajaran yang ramah anak yang dilakukan melalui pemilihan buku atau materi ajar maupun media pembelajaran yang tidak mengandung unsur kekerasan pada anak.
    b. Melaksanakan pembelajaran dengan sikap dan perilaku yang menghargai hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan.
    c. Melaksanakan pembelajaran dengan menanamkan sikap adil bagi seluruh siswa sehingga diupayakan tidak ada siswa yang mengalami kekerasan secara psikis.
    d. Melaksanakan penilaian pembelajaran yang menerapkan prinsip keadilan dan kejujuran agar siswa tidak merasa diperlakukan secara tidak adil.
    Penerapan perlindungan anak seharusnya juga didesain tidak hanya melibatkan warga sekolah secara terpadu (kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan siswa), namun juga terpadu dengan kebijakan pemerintah, keluarga, dan masyarakat.

Sekolah ramah anak pada dasarnya tecermin dari pengakuan anak/siswa yang merasa nyaman, kerasan, dan aman di sekolah. Banyak siswa yang merasakan hal itu, bahkan beberapa siswa kelas lain (yang tidak mengikuti program inovasi) menginginkan supaya kelas mereka menggunakan pembelajaran dan fasilitas yang sama. Oleh sebab itu, ada sekolah yang akhirnya berinisiatif meyediakan faslitas document keeper kepada kelas lain yang tidak ikut program dengan tujuan supaya siswa kelas lain juga merasakan hal yang sama (nyaman, kerasan, dan aman di sekolah).
B. Saran bagi kepala sekolah, guru, dll. dalam perlindungan anak

  1. Saran bagi kepala sekolah
    a. Menyusun program manajemen sekolah ramah anak yang di dalamnya memuat unsur perlindungan anak pada seluruh aspek kehidupan di sekolah yang meliputi aspek kompetensi guru, program pembelajaran, kompetensi tenaga pendidikan, sarana prasarana, dan lingkungan yang ramah anak. Dalam implementasi program manajemen sekolah ramah anak ini, Tim Unesa juga masuk sampai pada ranah kebijakan, di antaranya kebijakan sekolah dalam memasukkan program sekolah ramah anak dalam penyusunan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, evaluasi pembelajaran, penataan lingkungan sekolah ramah anak, pemilihan buku maupun media pembelajaran. Lingkungan sekolah ramah anak juga tecermin dengan adanya budaya yang mulai diterapkan untuk seluruh warga sekolah untuk menggunakan komunikasi, perilaku, dan tindakan yang ramah anak dan tidak mencederai anak, baik secara fisik, psikis, maupun dalam komunikasi.
    b. Memastikan program-program sekolah yang ramah anak, khususnya literasi ramah anak dapat berjalan dengan baik dan efektif.
    c. Melakukan inovasi-inovasi terkait dengan optimalisasi program perlindungan anak dengan menjalin kerja sama yang baik dan terpadu dengan stakeholders.
  2. Saran bagi guru
    a. Menyusun program pembelajaran yang ramah anak yang dimulai dari persiapan pembelajaran. Program persiapan yang ramah anak dilakukan melalui penyusunan rencana pembelajaran (RPP) yang berbasis perlindungan anak, pemilihan buku atau materi ajar maupun media pembelajaran yang tidak mengandung unsur kekerasan pada anak. Tim Inovasi Unesa mengintervensi progamprogram yang diimplementasikan guru sampai dengan bagaimana menyusun RPP yang berbasis ramah anak, cara memilih bahan ajar maupun buku bacaan siswa, cara memperlakukan anak secara ramah anak dan bebas kekerasan. Hal ini dilakukan mulai tahapan pelatihan pengawas, kepala sekolah, dan guru untuk membentuk persepsi yang sama dalam implementasi literasi ramah anak, yang selanjutnya dalam pelaksaan monev pembelajaran, terdapat komponen perlindungan anak yang harus diamati dalam implementasi di sekolah dan di kelas yang selanjutnya juga harus dilaporkan oleh tim pemonev.
    b. Melaksanakan pembelajaran dengan sikap dan perilaku yang menghargai hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan.
    c. Melaksanakan pembelajaran dengan menanamkan sikap adil bagi seluruh siswa sehingga diupayakan tidak ada siswa yang mengalami kekerasan secara psikis.
    d. Melaksanakan penilaian pembelajaran yang menerapkan prinsip keadilan dan kejujuran agar siswa tidak merasa diperlakukan secara tidak adil.
    e. Melakukan kegiatan refleksi sesuai dengan pertimbangan kemampuan siswa yang dilakukan secara jujur, adil, dan dalam upaya memaksimalkan kompetensi siswa.
    f. Disarankan bagi guru untuk tidak mempublikasikan hal-hal yang terkait dengan privasi dan identitas siswa, keluarga siswa, maupun sekolah tanpa persetujuan orang tua maupun prosedur yang menyalahi perlindungan anak.
    g. Melakukan upaya-upaya yang memastikan tidak terjadi kekerasan pada anak, baik fisik, psikis, maupun kognitif, baik dalam proses pembelajaran maupun di luar proses pembelajaran yang dalam lingkup pengawasan tanggung jawab guru, termasuk melakukan koordinasi dengan orang tua dan masyarakat dalam menjamin hak-hak perlindungan anak.
  3. Saran bagi orang tua
    a. Mendukung program perlindungan anak dalam lingkup keluarga dan koordinasi dengan sekolah maupun masyarakat di sekitarnya.
    b. Melindungi anak dari kekerasan fisik maupun psikis di lingkungan rumah dan menjaga hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari orang tua.
  4. Saran bagi masyarakat
    a. Mendukung program perlindungan anak dalam masyarakat dan koordinasi dengan lingkungan yang lain, orang tua, sekolah, dan pemerintah.
    b. Melindungi anak dari kekerasan fisik maupun psikis di lingkungan masyarakat dan menjaga hak-hak anak untuk mendapatkan perlindungan dan kasih sayang dari masyarakat.
  5. Saran bagi pemerintah
    a. Memastikan undang-undang perlindungan anak terimplikasi dengan baik di masyarakat dengan konsekuensi-konsekuensi hukum bagi yang melanggar.
    b. Mengajak dan memfasilitasi seluruh komponen masyarakat dan dunia pendidikan untuk melaksanakan perlindungan anak melalui program-program yang tersistem, terencana, dan terpadu.

V. MONITORING AND EVALUATION/MONITORING DAN EVALUASI
(Please write about: grantee monitoring and evaluation activities and summarise the results / Tuliskan tentang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh mitra serta hasilnya:

Monitoring and evaluation activities – please explain the method used (timeframe, instrument used, parties involved / Kegiatan monitoring dan evaluasi – jelaskan metode yang digunakan (kerangka waktu, instrumen yang dipakai, pihak yang terlibat)
Metode yang digunakan dalam monitoring dan evaluasi (monev)
Kerangka waktu:
Monitoring dan evaluasi dilakukan selama lima kali. Waktu pelaksanaannya adalah sebagai berikut:

  1. Monev 1 Tanggal 10—22 Desember 2018
  2. Monev 2 Tanggal03—14 Februari 2020
  3. Monev 3 Tanggal 9—18 Mei 2020
  4. Monev 4 Tanggal 9—18 Mei 2020
  5. Monev 5 Tanggal 14—20 Juni 2020
    Instrumen yang digunakan dan metode monev:

Instrumen yang digunakan dalam pelaksanaan monev adalah pedoman observasi. Monev dilaksanakan dengan metode observasi di lapangan, yaitu di 15 skeolah dasar yang digunakan sebagai sasaran program. Dalam hal ini tidak ada sampling karena semua sekolah dan semua kelas dimonev. Pemonev mengamati strategi literasi dalam pembelajaran (sebelum, selama, dan setelah pembelajaran). Selain itu juga diamati penggunaan alat bantu seperti grafis atau graphic organizer, materi ramah anak, inklusi, dan gender.
Untuk menggali data tersebut, selain observasi, juga digunakan wawancara. Pemonev terdiri atas unsur dosen dan kepala sekolah (monev pembelajaran) serta pengawas (monev budaya literasi). Pemonev (guru dan kepala sekolah lain) hadir di sekolah, bertemu dengan kepala sekolah, pengawas, guru, siswa, dan juga tenaga kependidikan. Pemonev yang pengawas bertemu dengan kepala sekolah, TLS, guru, dan tenaga kependidikan. Pemonev (dosen dan kepala sekolah) mengamati kegiatan guru dalam mengajar, mengamati penataan kelas. Adapun pemonev (pengawas) mengobservasi budaya literasi: lingkungan kaya teks, lingkungan social dan afektif, serta lingkungan akademis. Oleh sebab itu perpustakan, sudut baca, serta lingkungan yang lain menjadi sasaran observasi. Pemonev juga melakukan wawancara pada semua unsur tersebut untuk memantapkan data yang diperoleh dari observasi.

Pihak yang terlibat:
Pihak yang terlibat dalam kegiatan monev adalah:

  1. Dosen
  2. Kepala Sekolah
  3. Pengawas
    Dosen dan kepala sekolah memiliki tugas sama, yaitu melakukan monitoring dan evaluasi pengembangan literasi di sekolah, yang meliputi: strategi literasi dalam pembelajaran (sebelum, selama, dan setelah pembelajaran). Selain itu juga mengamati penggunaan alat bantu dalam pembelajaran. Data seperti kesesuaian RPP dengan pembelajaran dan keunikan yang dijumpai selama pembelajaran juga digali. Pemonev dosen dan kepala sekolah juga menggali data tentang keberadaan materi ramah anak, inklusi, dan gender.
    Selanjutnya, pengawas melaksanakan monev untuk memantau progres pengembangan budaya literasi sekolah, menyangkut bagaimana kegiatan membaca, keberadaan tim literasi sekolah, ketersediaan perpustakaan, pengaturan lingkungan fisik dan sosial sekolah, dan sebagainya. Data dari masing-masing pemonev merupakan bahan untuk saling memperkaya sekaligus sebagai bahan untuk crosschek.

1) Results Framework – monitoring questions and recapitulation of indicators’ achievements. Instrument for the monitoring and evaluation should have been attached with the quarterly report / Kerangka hasil – pertanyaan tentang monitoring dan rekapitulasi dari pencapaian indicator). Instrumen monitoring dan evaluasi harus sudah dilampirkan dalam laporan 3 bulanan

Kegiatan monev bertujuan untuk memantau apakah semua komponen dalam pembelajaran dengan
strategi literasi (khususnya literasi berimbang), sudah berjalan dengan baik. Terkait dengan hal
tersebut, maka aspek yang dipantau meliputi: strategi literasi dalam pembelajaran (sebelum
pembelajaran, ketika pembelajaran, dan setelah kegiatan pembelajaran); penggunaan alat bantu

(misalnya dengan graphic organizer dan check list); serta keberadaan materi ramah anak, inklusi, dan
gender.

Hasil monev di tiap sekolah menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan rerata dari hasil monev pertama sampai kelima. Namun demikian, bila dilihat dari rerata secara keseluruhan, nampak bahwa beberapa aspek sudah baik, dan beberapa aspek masih perlu ditingkatkan. Aspek yang masih perlu ditingkatkan meliputi: menggunakan big book; pemodelan proses menulis; menulis kolaboratif interaktif menghasilkan teks; mengajarkan strategi; pengelompokan sesuai level baca siswa; pemodelan proses menulis sesuai prioritas (belajar dari teks/genre); mendorong siswa menghasilkan teks sendiri melalui scaffolding, menulis beragam jenis teks/genre, guru memberikan arahan individu, berpasangan, kelompok; menggunakan sumber di luar teks; mengubah dari satu moda ke moda yang lain; memilih, mengombinasikan, dan/atau menghasilkan teks multimoda; mengonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi. Selanjutnya dalam penggunaan alat, penggunaan graphic organizer dan check list juga masih perlu ditingkatkan.

 Kerangka hasil pertanyaan tentang monitoring: 
 Semua komponen dalam pembelajaran dengan strategi literasi  (khususnya literasi berimbang) pada umummnya sudah dilaksanakan dengan baik, meliputi strategi literasi sebelum kegiatan, ketika 
 pembelajaran, dan setelah kegiatan pembelajaran.  Beberapa hal yang masih perlu ditingkatkan antara lain adalah: penggunaan big book, pemodelan strategi membaca kolaboratif, prediksi dan pemahaman 

bacaan interaktif, mendorong penerapan strategi, menulis kolaboratif interaktif menghasilkan teks,
mengajarkan strategi menulis terpandu, pengelompokan sesuai level baca siswa, pemodelan proses menulis sesuai prioritas, mendorong siswa menghasilkan teks sendiri melalui scaffolding, menggunakan
sumber di luar teks, mengubah dari satu moda ke moda lain, memilih, mengombinasikan, dan/atau menghasilkan teks multimoda, mengonfirmasi, merevisi, atau menolak prediksi.
Sedangkan untuk penggunaan alat bantu, pada umumnya masih perlu ditingkatkan di beberapa sekolah, baik alat bantu berupa pengatur grafis (graphic organizer) atau daftar cek (check list).

Selanjutnya pada materi ramah anak dan gender, pada umumnya semua sekolah sudah melakukannya
dengan baik. Hal yang masih perlu ditingkatkan adalah pada materi inklusi.

Lebih lanjut, keberadaan materi ramah anak, inklusi, dan gender, pada umumnya sudah baik, meskipun pada beberapa aspek masih perlu ditingkatkan, meliputi: pengondisian kelas ramah untuk penyandang disabilitas; materi pembelajaran rama untuk penyandang disabilitas; media pembelajaran ramah untuk penyandang disabilitas; dan interaksi guru dengan peserta didik menghargai penyandang disabilitas.
Hasil baseline yang dilakukan tim Inovasi untuk siswa di sekolah sasaran menunjukkan bahwa siswa yang tidak lulus dari sisi pengenalan kata di kelas I ada 15%.
Adapun nilai tes pengenalan kata yang dilakukan oleh mitra (Unesa) menunjukkan bahwa nilai pengenalan kata pada tes mengalami peningkatan walaupun tingkat kesulitan tes berikut lebih tinggi (tes II lebih sulit daripada tes I dan tes III lebih sulit daripada tes II).

Ni lai Rata-rata Pengenalan Kata (Kela s I)
Tes I Tes II Tes III
81,08 80,95 84,89

1) Laporan Akumulasi Capaian Indikator Pilot dan Kontribusinya pada Indikator INOVASI (sesuai yang disepakati) berdasarkan Result Framework yang sudah disetujui.
Menurur RF yang telah disusun pada bagian awal, capaian program adalah sebagai berikut.
SEBELUM SESUDAH
Guru dan Tim Literasi Sekolah (TLS)
• Guru belum menjadi anggota TLS. • Semua Guru kelas I, 2, 3 menjadi anggota TLS di 15 sekolah.
• Pemahaman guru:
• literasi = baca dan tulis

Hal ini mengemuka saat pelatihan dengan menggunakan “prediksi” pada bagian awal pelatihan. • Literasi tidak sekadar baca tulis, tapi meliputi strategi pembelajaran (literasi berimbang), di samping keberadaan literasi lain (literasi dasar). Hal ini mengemuka saat pelatihan dengan menggunakan “konfirmasi prediksi” pada bagian akhir pelatihan.
Strategi Literasi dalam pembelajaran dengan Literasi Berimbang
• Guru belum menggunakan strategi literasi, misal: Setelah membaca, siswa langsung diminta menjawab pertanyaan.
• Guru menggunakan strategi literasi dalam pembelajaran dengan literasi berimbang, misal: Siswa membaca (bisa per bagian atau keseluruhan), guru dan siswa mendiskusikan kosakata, siswa diminta menjawab pertanyaan atau melakukan kegiatan lain.
Pemanfaatan Lingkungan Kaya Teks oleh Guru
• Guru kurang mampu mengembangkan
lingkungan kaya teks termasuk tidak memberdayakan tempelan dinding kelas saat pembelajaran
• Guru mampu mengembangkan lingkungan kaya
teks: Tempelan dinding kelas lebih beragam, ada dinding kata, awan kata, karya siswa hasil pembelajaran, dan pohon literasi. Semuanya digunakan untuk pembelajaran
Pembelajaran untuk ABK
• Guru menyamakan pembelajaran untuk semua siswa.
• Guru memberikan pembelajaran yang berbeda untuk ABK (memberdayakan tutor teman sebaya
Pembelajaran berwawasan gender
• Ada guru yang membagi kelompok berdasarkan jenis kelamin.
• Guru membagi kelompok dengan cara membaurkan siswa laki-laki, perempuan, dan disabilitas.
Kepsek dan TLS
• Belum ada TLS, kepala sekolah kurang aktif menyiapkan proposal bantuan buku.
• Ada TLS yang membuat program literasi dan proposal bantuan buku ke desa (lurah), dudi, dan upaya bantuan buku dari yang akan-lulus dan alumni

Penetapan pembelajaran dengan literasai berimbang
• Kepala sekolah belum menetapkan pembelajaran dengan strategi literasi (literasi berimbang). Ada anggapan siswa yang belum bisa membaca/disabilitas akan merepotkan guru dan sekolah. •
Kepala sekolah menetapkan pembelajaran dengan strategi literasi (literasi berimbang) dan menerima ABK. Guru lebih telaten dan sabar karena memiliki pemahaman mengenai GESI.
Upaya membentuk lingkungan kaya teks
• Kepala sekolah dan pengawas belum mengembangkan lingkungan kaya teks secara maksimal. Sudut baca belum ada di semua kelas dan/atau belum berfungsi dengan baik •
• Sudut baca diadakan di hampir tiap kelas dan dimanfaatkan.
Upaya menggunakan halaman sekolah untuk lingkungan kaya teks
Budaya literasi
• Kepala sekolah dan pengawas kurang memahami budaya literasi dan TLS
• Kepala sekolah dan pengawas lebih memahami budaya literasi dan TLS serta dapat melakukan monev di sekolah.

Kecepatan Membaca Siswa Kelas 1
• 49 kata/menit
Pengukuran ini berdasarkan hasil tes awal untuk siswa kelas I • 57 kata/menit
Pengukuran ini berdasarkan nhasil tes akhir siswa kelas I
Pemahaman membaca siswa
• Nilai 63 (pertanyaan faktual)
• Nilai 65 (pertanyaan faktual dan inferensial, tingkat kesulitan lebih tinggi)
Nilai awal pengenalan kata 81,08 (berdasarkan hasil tes awal) Nilai akhir pengenalan kata 84,89 (berdasarkan hasil tes akhir)
Kemampuan Berbicara dan Menulis Siswa
• Siswa belum memahami elemen teks.
• Siswa mampu bercerita dan menulis cerita dengan elemen teks secara lebih rinci (terlihat dari portofolio siswa)
Kegemaran membaca siswa
• Kurang suka membaca (karena tidak ada sudut baca/sudut baca tidak berfungsi) • Lebih suka membaca di pojok baca saat istirahat.

•   Perubahan perilaku siswa 

• Cenderung diam, malu bertanya, kurang percaya diri
• Banyak bertanya, rasa ingin tahu lebih tinggi, berani menyampaikan pendapat, komunikatif terhadap orang baru
Identifikasi Praktik Baik
• Praktik baik dalam pembelajaran:
• Literasi Berimbang dengan pemahaman kosakata.

Note/Catatan:
2) Grantee may use separated report for the analysis results/evaluation report, if required/Mitra bisa membuat laporan terpisah untuk hasil analisis/laporan evaluasi, bila diperlukan
3) Please use the Result Framework that has been approved. Final report should cover questions on monitoring (narrative) and indicator achievements (quantitative). Achievements stated in the Final Report is an accumulation of approved pilot indicators’ achievement and its contribution in INOVASI indicators in the quarterly report/ Gunakan Result Framework yang sudah disetujui dan pelaporan final mencakup pertanyaan monitoring (naratif) dan capaian indikator (kuantitatif). Capaian di laporan final adalah akumulasi dari ‘Laporan Capaian Indikator Pilot dan Kontribusinya pada Indikator INOVASI (sesuai yang disepakati)’ dari laporan triwulan

VI. COMMUNICATIONS/KOMUNIKASI
A. Please explain how the different communication used by grantee in communicating the program results and to which stakeholders. Please explain which strategy was most effective, why? / Jelaskan penggunaan berbagai cara komunikasi yang berbeda oleh Mitra dalam menyampaikan hasil program dan kepada pemangku kepentingan yang mana. Jelaskan strategi yang paling efektif, dan mengapa?

Hasil program disampaikan atau dikomunikasikan secara lisan, tulis, dan video.

Dikomunikasikan secara lisan

  1. Dipresentasikan kepada para pejabat Unesa dan jajarannya pada tahap awal program.
  2. Didiskusikan dengan Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo dan jajarannya, para kepala sekolah, pengawas, guru, dan komite (tahap awal)
  3. Didiskusikan dengan pemonev (dosen, kepala sekolah, dan pengawas). Hasil monev langsung dikomuniksikan kepada guru setelah monev selesai.
  4. Disampaikan kepada masyarakat dalam kegiatan Sarasehan Literasi@Unesa yang ke-2 (22 Oktober
    2020).
  5. Guru dan kepala sekolah oleh tim Unesa melalui kegiatan Diskusi dan Evaluasi program tanggal 11
    Desember 2018.
  6. Semua guru, kepala sekolah, pengawas, dan komite sekolah oleh fasda melalui forum diseminasi di sekolah.
  7. Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo, guru, kepala sekolah, pengawas, dan pemonev melalui

Lokakarya Penguatan Program (25—26 April 2020)

  1. Didiskusikan dengan pemberi dana ketika ada pertemuan dengan tim Inovasi di Surabaya (4 Mei
    2020)
  2. Disampaikan secara berkala dalam grup WA dengan sekolah mitra.
  3. Dipresentasikan dalam Partnership Coordination Meeting, Selasa 11 Juli 2020 di Dinas Pendidikan Jatim.Disampaikan dalam Workshop Refleksi Program Pelatihan dan Pendampingan Literasi Ramah Anak di Kabupaten Sidoarjo, 3 Juli 2020 di Auditorium LPPM lt.6 Unesa. Dikomunikasikan secara tertulis
  4. Program in diberitakan di web Unesa Juli 2020
  5. Program in diberitakan di majalah Unesa Edisi Juli 2020.
  6. Ditulis dalam laporan bulanan dan tiga bulanan untuk disampaikan kepada tim INOVASI.
  7. Ditulis dalam laporan akhir.
  8. Ditulis dalam ppt untuk disampaikan dalam forum.
  9. Ditulis dalam wujud artikel karena menginsiprasi penyusunan buku berjenjang (disajikan dalam forum International Conference on Research and Academic Community Services atau ICRACOS, 7 September 2020 di Surabaya). Dikomunikasikan dalam video
  10. Video pelaksanaan program
  11. Video capaian program
  12. Video kemampuan literasi siswa
  13. Video pelaksaan dan hasil monev
  14. Video pelaksanaan pelatihan
  15. Video pelaksanaan workshop
  16. Video testimoni kepala dinas Sidoarjo
  17. Video testimoni sekretaris dinas Sidoarjo
  18. Video testimoni guru
    Video testimoni kepala sekolah 10.
    1. Video testimoni pemonev

Strategi komunikasi yang paling efektif yaitu melalui diskusi karena ada respon langsung dari
mitra diskusi.

B. Please list all the grantee communication products, and stories published/shared publicly) / Buatlah daftar produk komunikasi dari Mitra dan cerita-cerita yang dipublikasikan

Daftar produk komunikasi:

  1. Foto (ada dalam lampiran)
  2. Video
  3. Pemberitaan program di web Unesa
  4. Pemberitaan program di Majalah Unesa
  5. Materi Presentasi/PPT
  6. Manual dan poster
  7. Artikel

DAFTAR DATA PENDUKUNG LAPORAN INOVASI
N
O JUDUL LAMAN
1 Materi Pelatihan Dosen dan Guru (materi presentasi/ppt) http://bit.ly/materi_pel

2 Materi Diseminasi (dari guru-guru) http://bit.ly/materi_dis

3 Materi Tes dan Portofolio http://bit.ly/tes_porto

4 Manual dan Instrumen http://bit.ly/manual_ins

5 Materi Refleksi http://bit.ly/refleks1

6 Hasil FGD http://bit.ly/fgd_hasil

7 Scan Contoh Praktik Baik Guru http://bit.ly/prak_baik

8 Scan Contoh Portofolio Terbaik http://bit.ly/por_baik

9 Scan Contoh Lembar Persetujuan Wawancara Anak http://bit.ly/inform_anak

10 Laporan Bulanan dan Triwulan
Artikel: Pelaksanaan program ini menginsiprasi penyusunan buku berjenjang (disajikan dalam forum International Conference on Research and Academic Community Services atau ICRACOS, 7 September 2020 di Surabaya).
Pemberitaan program http://bit.ly/lap_bulan

11 Daftar Anak Disabilitas http://bit.ly/list_dis

12 Poster Literasi http://bit.ly/poslit

13 Video ada di http://bit.ly/capaian_program (capaian program) http://bit.ly/2oa0LwI (kumpulan video) http://bit.ly/workshop_refleksi (workshop refleksi)

VII. POLICY/KEBIJAKAN
(Please explain any policy that has been advocated and to whom/which level government and the results). What policy did your pilot need support of from the government and why / Jelaskan kebijakan mana saja yang telah diusulkan dan kepada siapa/tingkatan dalam pemerintah dan hasilnya. Kebijakan mana yang perlu dukungan dari pemerintah dan mengapa

Kebijakan yang diusulkan terkait dengan

  1. Pengembangan literasi di sekolah
    a. Disulkan kepada Kemendikbud.
    Hasil: ada rapor literasi per sekolah mulai 2020 ini dengan menggunakan indikator yang telah digunakan di sekolah sasaran.
    b. Disulkan kepada Dinas Pendidikan Siodarjo
    Hasil: Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo memberi testimoni mengenai pentingnya keberlanjutan program.
  2. Pengembangan buku berjenjang Diusulkan kepada Unesa dan DRPM, Dikti
    Hasil: Ada penelitian pengembangan untuk buku berjenjang (Unesa)
  3. Lomba Poster Literasi (Hasil Penelitian dan/atau PKM)
    Diusulkan kepada Unesa
    Hasil: Akan ada lomba poster Literasi
  4. Penguatan KKN Literasi dan mata kuliah literasi
    Disusulkan kepada Unesa
    Hasil: KKN Literasi (S-1) dan matkul Literasi (S-2) terus berlanjut

Kebijakan tersebut dinilai penting untuk Kabupaten Sidoarjo karena Sidoarjo merupakan salah satu kabupaten yang bertekat menjadi kabupaten penggerak literasi. Hal ini juga tidak lepas dari hasil indeks Alibaca yang menempatkan Jawa Timur pada urutan sepuluh terbawah. Peran mitra dalam usulan kebijakan tersebut adalah sebagai penggagas dan penyampai ide.

Berikut adalah perinciannya.

Poin Kebijakan Status Tujuan Target sasaran Tahapan advocay pihak yang terlibat Kontribusi Mitra
Pengembangan
literasi di sekolah
(Rapor Literasi)
final Pengembangan
literasi di sekolah berlanjut sekolah GLS
PMP
Kemdikbud Indikator rapor literasi
Pengembangan
literasi di sekolah (pembelajaran dengan
strategi literasi berimbang) lisan Pengembangan
literasi di sekolah berlanjut sekolah diskusi Kepala dan sekretaris Dinas
Pendidikan
Sidoarjo, Kepala sekolah dan guru mediator
Penelitian:
Pengembangan
buku berjenjang
final Penyediaan bahan kaya teks untuk sekolah sekolah dan masyarakat pelaksanaan Unesa Penyandang Dana PNBP
Lomba Poster
Literasi (Hasil Penelitian dan/atau PKM)
draf Pengembangan penelitian dan PKM bertema
literasi PT, sekolah, dan masyarakat perencanaan Unesa, PT, sekolah, pegiat
literasi,
masyarakat Penyelenggara

VIII. SUSTAINABILITY/KEBERLANJUTAN
(Please describe how grantee has prepared stakeholders for sustainability and how to obtain commitment from them to continue the program / Mohon jelaskan bagaimana Mitra menyiapkan keberlanjutan program dan bagaimana mendapatkan dukungan komitmen dari pemangku kepentingan untuk melanjutkan program)

 Keberlanjutan program disiapkan dengan menyediakan instrumen-instrumen, baik  yang telah    disebarluaskan secara nasional, maupun yang dikembangkan secara khusus untuk program ini (instrumen monev, soal-soal,  dokumen portofolio, dll.). Ada juga beberapa manual yang telah dikembangkan untuk 

program ini.

 Selain itu saat ini dikembangkan buku berjenjang yang akan diujicobakan secara terbatas di sekolah. Salah   satu keluhan sekolah yang mengemuka adalah ketersediaan buku. Biarpun telah dilakukan pengadaan buku    untuk sekolah (bantuan pengadaan buku), tampaknya kebutuhan buku bacaan masih diperlukan. Oleh      sebab itu, pengembangan buku berjenjang sebagai salah satu bentuk keberlanjutan program menjadi sangat penting. 

 Dalam hal ini,  pemangku kepentingan secara lisan sangat mendukung keberlanjutan program. Bagaimana     pun pencapaian sekolah dan siswa yang literat  akan menjadi salah satu capaian kinerja sekolah dan      daerahnya, contoh: budaya literasi, rapor literasi, dll. 
 Hasil FGD menunjukkan bahwa Sekolah memiliki tim literasi sekolah, dan tim ini akan terus melakukan     tugas untuk mengembangkan literasi meskipun program INOVASI telah berakhir nantinya. Hal ini diperkuat      dengan adanya rapor literasu secara nasional yang memasukkan unsur TLS. Dukungan kepala sekolah     sangat baik dalam program ini, sehingga tim literasi bisa bekerja secara optimal. 

IX. CHALLENGES AND SOLUTIONS/TANTANGAN DAN SOLUSI
What challenges did grantee face and how did you overcome in implementation phase? /Tantangan apa saja yang dihadapi Mitra pada fase implementasi program dan bagaimana mengatasinya?)
Pada fase implementasi program, ditemukan adanya anggapan dari guru bahwa siswa yang belum bisa membaca dan yang mengalami kesulitan belajar serta siswa ABK akan menambah beban guru dalam mengajar sehingga dalam melakukan pembelajaran di kelas, guru menyamakan pembelajaran untuk semua siswa baik yang reguler maupun yang ABK. Untuk menghadapi kondisi tersebut, tim Inovasi memberikan pelatihan
kepada guru mengenai GESI dan pembelajaran yang berbeda untuk siswa ABK.

Selain itu, pada awalnya sudut baca belum banyak terwujud di tiap kelas dan jika sudah ada, hal itu belum difungsikan secara maksimal (lingkungan fisik yang mendukung budaya literasi di sekolah belum berkembang maksimal). Selain itu, kegiatan 15 menit membaca setiap hari ternyata belum optimal dilaksanakan. Dinding kelas masih dipenuhi dengan gambar yang sama dari tahun ke tahun sehingga kurang maksimal untuk pembelajaran.
Dalam hal ini dilakukan pengembangan sudut baca melalui sosialisasi contoh-contoh dan bantuan rak/buku/alas lantai. Bahkan orang tua/ wali juga tergerak membantu mewujudkan. Kegiatan 15 menit membaca disosialisasikan sehingga semua sekolah melakukannya. Dinding kata yang dilatihkan diwujudkan dalam berbagai versi di kelas-kelas yang ada dan digunakan untuk pembelajaran.

Pergantian kepemimpinan di lingkup sekolah (kepala sekolah), dinas pendidikan (kepala dinas pendidikan), perguruan tinggi (rektor dan jajarannya) merupakan tantangan yang perlu disikapi dengan bijak. Dalam hal ini, dilakukan audiensi dan pengenalan program yang sudah berjalan pada pejabat baru. Alhamdulillah, pelan

tapi pasti, pergantian kepemimpinan tidak banyak mempengaruhi kebijakan yang telah digariskan sejak awal
program inovasi dijalankan.

Pada sisi lain ada kecemburuan dari guru dan siswa yang tidak terlibat dalam program. Hal ini terjadi karena perubahan proses pembelajaran ternyata diamati oleh siswa dan guru dari kelas lain. Selain itu, ada juga kecemburuan beberapa fasilitas untuk siswa/kelas sasaran. Solusi: Dilakukan kegiatan diseminasi dan
pelaksanaan program dikawal dengan pendampingan oleh semua pihak. Bahkan beberapa sekolah berinsiatif dengan dana mereka membelikan fasilitas yang sama untuk kelas lainnya (secara tidak langsung sudah terjadi proses pengimbasan program).

Jadwal libur yang panjang, model penerimaan siswa yang baru membuat koordinasi dan penjadwalan kegiatan bergeser. Solusi: Koordinasi lewat grup WA secara intensif dan permohonan pengunduran waktu

pelaporan selama dua bulan,

X.  LESSONS LEARNED/PELAJARAN YANG DIPETIK 

(What were the most important lessons learned in program implementation including the application of INOVASI principles in exploring local problems and solutions? / Apa pelajaran terpenting yang didapatkan selama pelaksanaan program termasuk lesson learned terkait penerapan prinsip INOVASI di dalam menggali masalah dan solusi local?)

Bekerja sama dengan INOVASI dan pihak-pihak lain yang terlibat (guru, kepala sekolah, pengawas, dan dinas

pendidikan stempat) memberikan banyak pelajaran terkait hal-hal melaksanakan proyek, di antaranya:

  1. Pelibatan semua stakeholders (siswa, guru, kepala sekolah, dan pengawas /dinas pendidikan setempat) dapat menjadi pembelajaran bagi semua pihak bahwa perubahan harus dilakukan secara sistematis dan sistemik untuk mencapai keberhasilan.
  2. Siswa paham bahwa dengan membaca, mereka bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru. Mereka juga bisa lebih percaya diri dalam mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya untuk mendapatkan pengetahuan baru. Selain itu mereka juga mendapatkan pengalaman bekerja sama dengan teman sebaya ketika mengerjakan tugas sekolah.
  3. Dengan bimbingan yang intensif, guru termotivasi melakukan perubahan dalam pelaksanaan pembelajaran. Ide-ide kreatif bisa muncul ketika ada tantangan baru. Guru juga lebih paham bagaimana seharusnya menghadapi siswa yang berkebutuhan khusus.
  4. Keterlibatan kepala sekolah dalam program dapat meningkatkan partisipasinya untuk mengupayakan tersedianya fasilitas yang diperlukan.
  5. Keterlibatan pengawas sekolah dalam program dari awal hingga akhir program membantu mereka dalam memahami konsep pembelajaran berbasis literasi.
  6. Adanya monitoring secara berkala memudahkan grantee melaksanakan pekerjaan sesuai aturan yang berlaku di INOVASI
  7. Staf INOVASI membantu dalam memberikan informasi terkait hal-hal yang bisa dilakukan, boleh dilakukan, dan tidak boleh dilakukan, misalnya dalam pengelolaan keuangan dan pengadaan barang dan jasa, sehingga kemungkinan terjadinya mismanagement oleh grantee dapat diminimalisasi. Biarpun dalam beberapa hal kadang-kadang terjadi perbedaan aturan, tapi semua dapat dilewati dengan baik.
  8. Unesa belajar bagaimana proyek yang sedang berjalan terus dipantau secara ketat agar
    pelaksanaannya sesuai dengan peraturan yang berlaku dan hasilnya sesuai dengan yang
    diharapkan.
  9. Pelatihan perlu diikuti dengan pendampingan yang berkelanjutan supaya program

berkelanjutan dan hasilnya dapat dilihat. Dalam hal ini digunakan pelatihan, penguatan, dan
refleksi (minimal).

  1. Unesa perlu lebih banyak menyelenggarakan kegiatan pendampingan pada setiap pelatihan. 11. Kebijakan Gesi sangat diperlukan di sekolah, khususnya kelas awal. Hal ini tidak hanya berdampak pada guru dan siswa sasaran, namun juga berdampak pada perubahan sikap pendamping, mahasiswa, orang tua, dan warga sekolah.
  2. Perlu komunikasi yang intens dan berkesinambungan dengan pihak-pihak terkait agar program dapat berjalan sesuai harapan.
  3. Karena padat dan beragamnya program yang ada di sekolah dan dinas pendidikan, pernah terjadi kesulitan dalam mengatur jadwal tes. Hal ini mengakibatkan tes di sekolah sasaran tidak dapat dilakukan secara serentak karena harus menyesuaikan dengan program sekolah

(salah satu sekolah sasaran adalah sekolah swasta berbasis agama yang memiliki kalender
pendidikan yang berbeda dengan sekolah umum).

  1. Menjalin kerjasama dengan kepala sekolah juga memerlukan seni yang tersendiri karena perbedaan kepribadian , pengalaman, dan kondisi kesehatan. Ada kepala sekolah dan guru yang sangat responsive dan proaktif, tetapi ada juga yang reaksinya kurang cepat. Akibatnya laju program pada masing-masing sekolah tidak sama.
  2. Peran Dinas Pendidikan Kabupaten sidoarjo dan Pengawas Kecamatan Taman dan Sidoarjo sangat penting dalam raihan kesuksesan program ini karena sekolah target pada umumnya akan mematuhi instruksi dari Dinas Pendidikan mengingat secara struktural ada garis komando dari Dinas Pendidikan kepada Sekolah.

XI. ROLE OF GRANTEES IN IMPROVING BASIC EDUCATION QUALITY GOING FORWARD/PERANAN MITRA DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PENDIDIKAN DASAR DI MASA MENDATANG
(How grantee sees their role in supporting the government’s agenda to improve students learning outcomes and efforts towards inclusion within the education system going forward, and in what way has the partnership with INOVASI prepared the grantee in this regard) / Bagaimana Mitra melihat peran mereka dalam mendukung agenda pemerintah untuk meningkatkan hasil belajar siswa dan upaya menuju inklusi dalam sistem pendidikan di masa mendatang, dan dalam hal apa kemitraan dengan INOVASI menyiapkan Mitra dalam hal ini)

 Peran Pusdi Literasi, LPPM. Unesa dalam mendukung agenda pemerintah untuk meningkatkan hasil belajar    siswa dan upaya menuju inklusi dalam sistem pendidikan di masa mendatang sangat signifikan. Sumber daya     yang ada di Unesa memungkinkan hal tersebut. Selain Pusat Studi Literasi, Unesa juga memiliki Pusat     Layanan Disabilitas dan Pusat Studi Gender dan Anak. Peran ini juga sejalan dengan beberapa peran yang      dijalankan oleh gerakan literasi sekolah (GLS), komunitas literasi, pegiat literasi, dan beberapa Lembaga   pendukung literasi.  
 Dalam hal ini, Inovasi berperan penting dalam menyiapkan mitra untuk merencanakan, melaksanakan, dan    mengevaluasi program. Beberapa capaian program ini tidak terlepas dari peran inovasi. 

XII.BUDGET ABSORPTION/PENYERAPAN BUDGET

     Grant Agreement Budget  Budget Absorption   Budget Balance 

Budget Code Description of Activities / Deskripsi
Aktivitas Total
Cost/Total
Biaya (IDR) Total
Cost/Total
Biaya
(AUD) Total
Cost/Total
Biaya (IDR) Total
Cost/Tot al Biaya
(AUD) in
IDR in
AUD
I Personnel Cost / Biaya Personel 127.900.000 140.690.000
II Operational Cost / Biaya Ooerational 33.100.000 22.974.696
III Activity Cost / Biaya Kegiatan 482.150.000 419.375.091
Sub-total 643.150.000
Indemnity 15.000.000 12.667.000
Total 658.150.000 595.706.787

XII. RECOMMENDATIONS/REKOMENDASI

Pengembangan budaya literasi melalui lingkungan fisik, lingkungan sosial dan afektif, serta lingkungan akademik perlu terus ditingkatkan. Hal itu dapat terus dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disosialisasikan saat pelatihan.
Pembelajaran dengan strategi literasi, khususnya dengan literasi berimbang merupakan praktik baik dalam kegiatan pembelajaran yang perlu untuk diteruskan guna mengembangkan lingkungan akademik yang
literat. Dalam hal ini, semua sekolah perlu menerapkan strategi literasi dalam pembelajaran. Hal itu telah tertuang dalam kebijakan Dikdasmen, Kemdikbud.

Perwujudan sekolah sebagai sekolah ramah anak perlu terus dikembangkan sehingga anak/siswa merasa nyaman, kerasan, dan aman di sekolah. Hal ini dapat dilakukan melalui pelatihan dan pendampingan yang terus-menerus dilakukan.

Perwujudan sekolah dan siswa yang literat memerlukan dukungan dan bantuan dari berbagai pihak, antara lain: orang tua, komite, masyarakat, dunia usaha dan dunia industri (dudi), pemerintah. Oleh sebab itu, sekolah perlu proaktif membuka kerja sama dengan semua pihak. Pihak pendukung juga perlu proaktif mendukung sekolah. Pemerintah perlu tanggap dan ikut mendukung program ini atau program sejenis.
Sekolah/dinas Pendidikan/pemda perlu lebih proaktif membangun jejaring kerja sama dengan mitra terkait
(PT), dunia usaha dan dunia industri, desa, dll.

Program Inovasi atau yang sejenis yang berbasis pada pengembangan literasi dan berdampak pada peningkatan kemampuan siswa perlu terus berlanjut di seluruh penjuru negeri.
Sekolah dan Pemda meneruskan program literasi, khususnya strategi literasi dalam pembelajaran (Literasi
berimbang) yang didukung oleh budaya literasi di sekolah.

Pelatihan dan Pendampingan Literasi Ramah Anak (Diwujudkan dengan wawasan GESI dan Strategi
Literasi Berimbang dalam Pembelajaran) perlu diterapkan pada guru kelas 4,5,6 dan guru kelas awal (1,2,3) di sekolah imbas.

XIII. ANNEXES/LAMPIRAN
Photo documentation/Dokumentasi foto
– Theory of Change and Resuls Framework – if there is any change, please attach/Teori Perubahan dan
Kerangka Hasil – jika ada, mohon dilampirkan

Submission date and Prepared by:

 Kisyani-Laksono     (Signature here and stamp)  Date: 

09/09/2020
Program Manager (Pusat Studi
Literasi, LPPM, Unesa)

Review and approved by: Click here to enter name.
Program Manager INOVASI

LAMPIRAN FOTO PELATIHAN CALON PEMONEV
Surabaya, 05—06 Oktober 2018 Aula LPPM, lantai 6, Gedung Rektorat Unesa

Retnaningdyah, Ph.D. sedang membekali peserta dengan materi literasi berimbang

Calon pemonev sedang simulasi mengajar dengan literasi berimbang.

FOTO PELATIHAN WARGA SEKOLAH
Sidoarjo, 13—14 Oktober 2018 Di SDN Cemengkalang Sidoarjo

Prof. Kisyani sedang memaparkan Program Literasi Ramah Anak kepada warga sekolah.

FOTO MONITORING DAN EVALUASI

FOTO MONEV TIM INOVASI KE UNESA

FOTO WORKSHOP PENGUATAN Sidoarjo, 25—26 April 2020 di SDN Cemengkalang

Pengawas sekolah memberikan masukan untuk SDN Jati berdasarkan hasil diseminasi mereka.

Kepala SDN Jati menyampaian Tim Literasi Sekolah.

Diseminasi di SDN Trosobo 1 Taman Sidoarjo.

Diseminasi di SDN Ngelom Taman Sidoarjo.

Foto bersama usai diseminasi.

Guru kelas 1 SDK Untung Suropati 2 Sidoarjo melakukan deseminasi, 23 Maret 2020.

Kepala SDK Untung Suropati 2 Sidoarjo melakukan deseminasi, 23 Maret 2020.

FOTO MONEV II: PEMBELAJARAN DI SEKOLAH MITRA

FOTO TES MEMBACA

FOTO MONEV III: DISKUSI USAI MONEV

FOTO DISEMINASI

Foto Deseminasi di SDN Trosobo

Foto Deseminasi di SDN Tawangsari III

FOTO LINGKUNGAN KAYA TEKS

FOTO SUDUT BACA

FOTO WORKSHOP REFLEKSI PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN LITERASI RAMAH ANAK DI SIDOARJO Surabaya, 3 Juli 2020 Aula LPPM Unesa, Lantai 6, Gedung Rektorat, Kampus Unesa Lidah Wetan Surabaya

LAPORAN SARASEHAN LITERASI
SEPANJANG TAHUN 2020

Sepanjang tahun 2020 ini Pusat Studi Literasi, LPPM, Unesa mengadakan berbagai kegiatan sarasehan dengan berbagai tema sesuai penempatan hari pelaksanaan. Pada September lalu misalnya, sarasehan PLU mengangkat tema “Literasi dalam Pembelajaran” sebagai wujud partisipasi dalam rangka Hari Aksara / Literasi Internasional yang diperingati setiap tanggal 8 September.
Literasi Akademis dalam Pendidikan, Literasi dalam Pembelajaran, Literasi Berimbang, sampai dengan Literasi Kesehatan Mental untuk lansia adalah beberapa tema yang sudah tuntas dilaksanakan PLU tahun 2020. Berikut ini tabel penjelasan masing-masing sarasehan literasi itu, diawali dengan deskripsi, narasumber, dan uraian tema.

Tanggal Pelaksanaan Tema Narasumber Uraian Tema
2-5-2020 Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Baca Tulis Kisyani Laksono
Pratiwi Retnaningdyah Penjelasan dan peningkatan pemahaman pentingnya literasi baca tulis
9-5-2020 Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Digital Setya Chendra Wibawa
Dwi Cahyo Kartika Penjelasan dan peningkatan pemahaman pentingnya literasi digital
16-5-2020 Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Budaya dan Kewargaan Made Pramono
Septi Alrianingrum Penjelasan dan peningkatan pemahaman pentingnya literasi budaya kewargaan
20-5-2020 Literasi Akademis dalam Pendidikan: Literasi Finansial Susanti
R. Sista Paramita Penjelasan dan peningkatan pemahaman pentingnya literasi finansial
30-5-2020 Literasi Akademis dalam Pendidikan: Numerasi dan Literasi Sains Endah Budi Rahaju
Wahono Widodo Penjelasan dan peningkatan pemahaman pentingnya Numerasi dan Literasi Sains
6-6-2020 Literasi Berimbang: Membaca Terpandu dan Membaca Nyaring (Seri I) Lies Amien Lestari
Fafi Inayatillah Pengembangan literasi peserta didik dengan Membaca Terpandu dan Membaca Nyaring
13-6-2020 Literasi Berimbang: Membaca Bersama dan Membaca Mandiri (Seri II) Wahyu Sukaetiningsih
Rooselyna Ekawati Pengembangan literasi peserta didik dalam cara Membaca Bersama dan Membaca Mandiri
20-6-2020 Literasi Berimbang: Menulis Mandiri (Fiksi dan Nonfiksi) (Seri III) Anas Ahmadi
Luthfiyah Nurlaela Pengembangan literasi peserta didik dalam cara Menulis Mandiri (Fiksi dan Nonfiksi)
27-6-2020 Literasi Berimbang: Menulis Bersama dan Menulis Terpandu (Seri IV) Yuliyati
Sifaq Indana Pengembangan literasi peserta didik dalam cara Menulis Bersama dan Menulis Terpandu
12 September 2020 Sarasehan Literasi@Unesa 2020: Literasi dalam Pembelajaran Pembicara Kunci:
Iwan Syahril
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Sofi Dewayani,
Pangesti Wiedarti,
Wahono Widodo Penguatan kemampuan literasi melalui pembelajaran
26 September 2020 Sarasehan Literasi@Unesa 2020: Asesmen Literasi dan Numerasi Pratiwi Retnaningdyah
Endah Budi Rahayu
Nono Purnomo Penguatan kemampuan literasi melalui Asesmen Literasi dan Numerasi
31 Oktober 2020 Sarasehan Literasi@Unesa 2020, Sabtu: LITERASI UNTUK KESEHATAN MENTAL E. Aminudin Aziz
Diana Setiyawati
Soetanto Hartono
Kisyani-Laksono Penguatan kemampuan literasi untuk kesehatan mental lansia

Hampir semua tema sarasehan dihadiri oleh peserta dari beragam profesi (guru sampai praktisi) dan beragam provinsi (Jawa sampai papua) yang sekaligus mengndikasikan minat tinggi terhadap peningkatan pemahaman baru literasi. Memang antusiasme peserta di saat sarasehan juga mengindikasikan hal itu, tetapi minat tinggi diharapkan tersebar ke semua masyarakat khususnya di Indonesia berikut materi pemahaman yang juga meningkat. Unesa bisa dikatakan menjadi mercu suar literasi di Indonesia, sebagai kampus penggerak literasi.

Start chat
1
Selamat datang, ada yang bisa kami bantu?